ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA KOMPLASI - Malang (Komunitas Mahasiswa Dan Pelajar Sila - Malang)

KOMPLASI - Malang “Komunitas Mahasiswa dan Pelajar Sila - Malang” Januari, 2009.

PENGUMUMAN !!!

"Mohon untuk dibaca dan diberitahukan kepada teman-teman yang lain"

KEBERSAMAAN KELUARGA KOMPLASI MALANG

Lagi asik bergoyang bersama-sama. hehehe.

Di Pantai

Kebersamaan yang tak terlupakan.

HAVE FUN PICNIC Bajul Mati

"kebersamaan keluarga Komplasi Malang"

Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 November 2014

SEJARAH KOMPLASI-MALANG

SEJARAH KOMPLASI-MALANG
(KOMUNITAS MAHASISWA DAN PELAJAR SILA - MALANG)

Bismillahhirrahmanirrahim....,
Assalamualaikum warrahmatullahi Wabarakatu...,
Hidup Mahasiswa...,
Hidup Pelajar...,
Salam Setengah Merdeka....,

A.  PROLOG
Kebutuhan untuk belajar  menjadi seorang pemimpin lahir karena kebutuhan hidup, dan untuk membentuk  pribadi yang trampil dalam memimpin dan bijaksana dalam mengambil keputusan serta bertanggungjawab dibutuhkan sebuah wadah yang bisa membentuk dan memelihara sifat-sifat tersebut. Namun naasnya berbanding terbalik dengan sifat-sifat yang sejatinya dimiliki pemimpin tersebut, di daerah Bima justru terjadi krisis kepemempinan, krisis tersebut jelas tidak berkaitan dengan jumlah orang yang ingin menjadi pemimpin, tapi berkaitan dengan kualitas dari orang-orang yang ingin menjadi pemimpin di Bima, seiring berjalannya waktu perlahan tapi pasti regenerasi terjadi sehingga mempersiapkan pemimpin-pemimpin masa depan menjadi tugas bersama yang tidak hanya dibebankan pada generasi tua saja, generasi muda pun sebagai pemegang tongkat estafet kepemimpinan sejatinya mempersiapkan diri dengan baik , Komplasi Malang diharapkan menjadi salah satu wadah bagi generasi muda tersebut  untuk secara SADAR mempersiapkan diri untuk memberikan baktinya pada dana Mbojo tercinta.
Komplasi Malang hadir untuk menciptakan pemimpin-pemimpin masa depan. Pemimpin yang tidak bertendensi pada politik praktis, tapi pemimpin yang bertendensi pada etika politik, pemimpin yang amanah. Pada masa-masa awal pendirian komplasi, komplasi tidak lahir atas mimpi satu orang, tapi komplasi lahir lewat mimpi bersama jauh dari kepentingan politik praktis. Sejak didirikan pada bulan 15 Maret 2009, komplasi dikenal gencar dalam membendung arus pragmatisme mahasiswa dalam aktifitas politik praktis, salah satu dampakya adalah ditarik keluarnya personel komplasi dari kemelut berkepanjangan yang terjadi di Asrama Bima di Tlogomas, serta KKPMB (Organisasi yang menaungi mahasiswa Bima Di Malang). Perkembangan komplasi dari tahun ke tahun mengalami progres yang cukup baik. Pada tahun awal pendirian komplasi  tahun 2009 tercatat 50 orang anggota, dan yang aktif sekitar 25 orang, angka-angka tersebut kemudian berkembang dengan cukup signifikan pada tahun 2012 yang mencatat terdapat 60 Orang Mahasiswa Asal sila sebagai Angggota Komplasi.
Sejalan dengan perkembangan anggota tersebut, perlu kiranya untuk memelihara spirit keorganisasian, sehingga organisasi ini tidak kehilangan arah dan orientasi dasar. Sejalan dengan itu Ketua Komplasi periode 2013 memberikan amanah kepada  saya untuk menuliskan sejarah singkat Komplasi sebagai pesan untuk generasi muda komplasi. Sehingga pada perkembangan selanjutnya lembaga ini tidak menjadi lembaga yang Organ oriented, atau terjebak dalam fanatisme kelompok dan organisasi, namun berkembang dengan lebih dewasa dan terbuka. Sehingga melahirkan generasi yang tidak hanya matang dalam berorganisasi tapi juga bijak dalam bertindak.

B.   SEJARAH KOMPLASI MALANG
Komplasi Malang Adalah Komunitas Mahasiswa dan Pelajar Sila di Malang, komunitas ini berbasis jaringan berbentuk komunitas. Kenapa Organisasi Komplasi tidak berbentuk Forum atau Himpunan, alasanya adalah karena para pendiri organisasi ini ingin menjauhkan orgainisasi ini dari kesan formil yang kaku, dan menjauhkan organisasi ini dari kesan struktural, sehingga asas kerja Komplasi bersifat kolektif kolegial yang artinya “kerja sama dan sama kerja”, tidak terikat dengan TUPOKSI (Tugas Pokok dan Fungsi). Dengan demikian diharapkan setiap elemen dalam komunitas ini memiliki tanggung jawab moril terhadap keberlangsungan Komplasi di masa mendatang. Berikutnya, kenapa organ ini tidak berbentuk paguyuban atau lembaga kedaerahan sejenis?, karena komplasi diharapkan menjadi lembaga yang fleksibel dalam hubungannya dengan individu maupun organisasi lain di luar Sila, di luar Bima, di luar NTB atau bahkan diluar Indonesia. Sebagai dampak dari spirit keterbukaan tersebut keanggotaan di komplasi menjadi fleksibel dengan adanya status keanggotaan luar biasa yang memungkinkan orang-orang diluar wilayah sila untuk bergabung dalam kepungurusan komplasi, walaupun dibatasi pada kepengurusan tertentu untuk menjaga Identitas organisasi Komplasi.

1.      Pendirian KOMPLASI
Komplasi-Malang didirikan bersama oleh Mahasiswa sila di Malang pada Bulan Desember 2008. Proses berdirinya komplasi berawal dari pertemuan yang diadakan di wisma Hijau kelurahan Sumbersari, tempat Kost beberapa pendiri komplasi. Sebelumnya atas inisiatif saudara Aris yang pada saat menempuh kuliah di Jurusan Psikologi Pascasarjana UMM, teman-teman Sila berkumpul, dalam pertemuan tersebut teman-teman mengeluhkan hal yang sama, yaitu ketiadaan organisasi kedaerahan yang mengakibatkan luputnya berbagai informasi penting seputas studi dan keorganisasian, dan sebagian kecil keluhan tentang permasalahan pribadi. Beberapa diantara keluahan tersebut antara lain;
1. Tidak terkoordinir dengan baiknya mahasiswa sila di Malang, pada hal jumlah mahasiswa sila di Malang cukup banyak, kendati tidak terkoordinir dengan baik, dan dirasakan banyak dampak buruk akibat tidak adanya wadah untuk mengkoordinir tersebut.
2. Mahasiswa alumni Malang dikenal memiliki potensi positif dan kreatif berkarya ketika terjun dalam masyarakat, namun naasnya banyak diantara mahasiswa sila yang tidak berminat untuk mengabdi di daerah atau minimal memberikan sumbangsih positif bagi daerah walaupun mereka berada di Malang atau daerah lain.
Dari pertemuan yang dihadiri oleh Aris (Universitas Muhammadiyah Malang), Suhud (Universitas Muhammadiyah Malang), Lukman (Universitas Muhammadiyah Malang), Iki Rahmansyah (Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian), Imam Yuliadi (Universitas Negeri Malang) dan Arif Rahman Hakim (Universitas Brawijaya) tersebut teman-teman bersepakat untuk mendirikan organisasi yang diberi nama Komplasi, yang merupakan singkatan dari “Komunitas Mahasiswa dan Pelajar Sila – Malang” serta membentuk tim Formatur yang di ketuai Oleh Saudara Imam Yuliadi. Setelah mempersiapkan kepanitiaan dan berbagai kelengkapan organisasi, Selanjutnya pada bulan Februari 2009 dilangsungkanlah Sidang Mbolo Nae komplasi yang pertama, dari Mbolo Nae tersebut terbentuklah kepengurusan sebagai berikut;
PENASEHAT              : ARISSARYADIN S,ST, S,Pt
KETUA                         : IMAM MULYADI (UM)
WAKIL KETUA         : M. SHOBIRIN (UMM)
SEKRETARIS            : MUHAMMAD SUHUD (UMM)
BENDAHARA (1)      : NURMALIA FITRIANA (UB)
BENDAHARA (2)      : HUWAIDAH (UMM )

Setelah masa kepengurusan yang pertama berakhir pada tahun Februari 2010 kembali diadakan Mbolo Nae Komplasi di Wisma Hijau Kelurahan Sumbersari untuk melakukan perganitian pengurus pada kepengurusan tersebut terbentuk kepengurusan sebagai berikut:
PENASEHAT             : ARISSARYADIN S,ST, S,Pt
KETUA                        : IMAM MULYADI (UM)
WAKIL KETUA        : SYAMSUL BAHTIAR (UM)
SEKRETARIS            : SUHUD (UMM)
BENDAHARA (1)      : SURYANI (UMM)

Pada masa awal pendirian Komplasi mengalami kesulitan dalam regenerasi. Sehingga terpaksa ketua memimpin selama hampir 3 tahun dari tahun 2009 sampai 2012. Namun ada beberapa hal penting yang dilakukan di kepengurusan pertama, yaitu;
1.  Merumuskan aspek-aspek fundamental dalam organisasi, seperti perumusan asas dan tujuan organisasi.
2.  Melakukan konsolidasi eksternal dan internal organisasi, seperti menarik anggota-anggota komplasi dari kemelut politik praktis yang tidak sehat di KKPMB (Kerukunan Keluarga pelajar dan mahasiswa Bima) dan di tubuh asrama Bima di Tlogo mas.
3. Aksi solidaritas untuk Sumiati TKI di Arab Saudi Asal Dompu-NTB yang dianiaya majikanya di tempat kerjanya.

2.      Perkembangan Komplasi ke Masa berikutnya
Adanya keinginan untuk melakukan regenerasi kepemimpinan Komplasi Malang, sehingga dibicarakanlah persiapan untuk melakukan sidang Luar biasa. Dimana pada sidang luar biasa itu dilaksanakan pada bulan Juni 2013 mengenai Laporan Pertanggungjawaban kepengurusan yang lama dan pemilihan ketua baru.
Dalam Sidang Luar Biasa tersebut diputuskan pula untuk membahas AD/ART setelah pemilihan ketua. Karena terbatasnya waktu dan kelengkapan sidang, Mbolo Nae (Untuk pembahasan AD/ART) dilanjutkan di Sila saat libur bulan Ramdhan. Setelah Pergantian pengurus “pemilihan ketua dilakukan di Malang” bulan juni 2013, kemudian dilanjutkan dengan pembentukan serta pelantikan pengurus di Bima –pendopo Al Amin Rato sila pada bulan Agustus tahun 2013.

STUKTUR KEPENGURUSAN KOMPLASI 2013-2014
Dewan Penasehat             : Aris Suryadin S.St. S.Pt. M. Psi
Anggota               : 
1. Imam Yuliadi S.Pd
2. Muhammad Suhud. S.farm. Apt
3. Lukman S.Kep Ns.

Ketua Umum                 : Muziburrahman
Wakil Ketua Umum      : Irawan
Sekertaris    Umum        : 
1. Dini Haryati
2. Nursahidah ( Arizzona Tahomena)

Bendahara Umum          :  
1. wahyuningsih
2. Riris Indasari

Divisi Humas                  
Ketua : muh. Irfan
Sekertaris                        : sahrul Mubarak
Anggota                          
1.  Miratunnisa Azzahrah
2.  Hurun ‘ain
3.  Nurhasanah
      
Divisi  PA
Ketua                               : Mahfud
     Sekertaris                   : Ayu wandira
Anggota                           :  
1. Nurlaila
2. Hanif
3. Ainun istianah
4. Nurul marjan
5. Uswatun Hasanah
                                                       
Divisi bakat Minat         : 
Ketua                              : Radiar Rahman
sekertaris                                     : Rahmat Akbar        
Anggota                          
1. Ma’ruf
2. M. Asykar
3. Ince Akram
4. Vivi sulastri
5. Azizah

Pada masa kepengurusan Saudara Muziburrahman komplasi melakukan beberapa program yang diantaranya : Kegiatan Liburan bersama di pantai, Buka puasa bersama, kegiatan keolahragaan, dan lain-lain.
Seiring perkembangannya, Komplasi  menjadi wadah bagi seluruh anggota untuk saling mengenal dan saling merasa memiliki antara anggota keluarga komplasi yang lain. Pada kejuaraan Lomba Futsal yang diadakan oleh teman-teman di IKPMB (Ikatan Keluarga dan Pelajar Mahasiswa Bima), Komplasi sudah mendapatkan juara 3 dan bahkan pernah mendapat juara 2. Ini adalah prestasi yang membenggakan tentunya. Komplasi Malang pun berperan Aktif dalam membantu dan memfasilitasi adik-adik yang mau datang kuliah di Universitas-universitas di Malang. Sehingga mempermudah anggota baru yang datang ke malang untuk bisa Kuliah di sini.
Suasana kekeluargaan yang ada pada kepengurusan ini sungguh luar biasa dan dinamika organisasi pun berjalan dengan baik sampai akhir kepengurusannya.


C.   AKHIRUL KALAM
Begitu banyak dan kompleksnya permasalahan dalam kehidupan di Dunia ini. Pada hakekatnya manusia sebagaimana disebutkan dalam Al Quran diciptakan sebagai khalifah di muka bumi ini, untuk menjalankan berbagai fungsi yang kompleks tersebut dalam mengarungi kehidupan, sehingga pada hakekatnya semua manusia adalah pemimpin, dalam proporsinya masing-masing.  Tidak seorang pun manusia di dunia ini yang luput dari tanggung jawab sebagai seorang pemimpin. Esensi pemimpin sejatinya tidak dimaknai secara sempit sebagai bentuk memimpin sekelompok, segolongan, atau sejumlah orang saja, karena bahkan seorang individu pun memiliki kewajiban untuk memimpin dirinya sendiri, karena semua individu di dunia akan dimintai pertanggungjawabanya di akherat kelak, tentang bagaimana dia memimpin jasadnya selama di dunia. Kaki, tangan, telinga, mata, bahkan lidahnya akan menjadi saksi dari pertanggungjawabanya di hadapan Allah SWT tentang bagaimana seorang manusia memimpin jasadnya. Tidak berhenti pada pertanggungjawaban terhadap dirinya sebagai individu, dalam Al Quran pun diamanatkan tentang Hablum minan naas sebagai fungsinya dalam kehidupan bermasyarakat dalam menjalani kehidupan di dunia. Dari begitu kompleksnya peran manusia di dunia tersebut maka tugas manusia ini kemudian menjadi tidak mudah, oleh karena tugas yang tidak mudah itulah manusia mengemban tugas belajar sepanjang hayat, tidak hanya belajar saja tapi juga berbagi ilmu pengetahuan, sehingga diharapkan dengan wadah Komplasi, mahasiswa Bima khususnya Sila di Malang dapat belajar, mengamalkan, serta berbagi Ilmu pengetahuannya. Sehingga dalam wadah ini kawan-kawan mahasiswa dalam perannya sebagai Agen of Change diberikan stimulus untuk membelajarkan diri, dalam artian menggali kesadaran individu untuk memotifasi diri sendiri dalam belajar guna kehidupan yang lebih baik, dalam memimpin diri sendiri maupun orang lain..., amin...amin... ya robbal alamin...,

HIDUP MAHASISWA.....,



*Penyusun merupakan Anggota Dewan Pembina Komplasi,

saat ini sedang melanjutkan studi S2-nya di Surakarta Jawa Tengah

Selasa, 14 Oktober 2014

SEPERTI APA SIH BIMA?


Oleh : Imam Yuliadi
1. BIMA 
Bima merupakan daerah tingkat II di Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), sebelum bergabung dengan NKRI Daerah Bima telah melewati perjalanan sejarah yang panjang, dari masa sebelum Islam yang hingga kini masih sulit untuk diungkapkan serta dipaparkan sejarahnya karena ALASAN keterbatasan sumber. orang Bima menyebut dirinya "Dou Mbojo" jadi ketika teman-taman semua berkunjung ke Bima jangan heran ketika kata mbojo lebih familiar ketimbang kata Bima.

2. PERAN APA YANG BIMA MILIKI DALAM PERGOLAKAN SEJARAH BERSKALA NASIONAL?
Dalam konteks Sejarah Nasional Peran Bima dalam Dinamika politiknya jarang diungkap. hal ini mungkin dikarenakan porsi partisipasi pergolakan kekuasaan di sana banyak bersifat lokal dan regional wilayah saja. Selain itu penulisan sejarah tentang Bima juga banyak dilatar belakangi oleh Nasionalisme berlebihan sehingga tulisan-tulisan sejarah lokal tentang peran Bima dalam dinamika politik nasional terkesan dipaksakan. Dari sini penulis berusaha membuat tulisan dengan landasan historis lokal yang juga memaparkan karakteristik masyarakat Bima, sehingga selain pembaca bisa mengetahui Dinamika kekuasaan di Bima, pembaca juga bisa menilai sendiri bagaimana kondisi masyarakat Bima Abad 17-18 M.
Masyarakat Bima adalah masyarakat dengan kontruksi yang heterogen. Dalam masyarakat Bima terdiri dari komposisi ras yang lumayan beragam. Kapan dan bagaimana Bima bisa memiliki komposisi masyarakat yang demikian secara historis penulis akan mencoba memaparkan dalam tulisan ini yang mengangkat judul “Dinamika Sosial dan Politik Kesultanan Bima Abad 17 – 18 M” Bima masa kesultanan atau menurut Bpk. Ari Sapto M.Hum lebih tepat disebut Kerajaan Islam Bima yang dalam sejarahnya banyak ikut serta dalam berbagai pergolakan di Nusantara bagian timur terutama dalam masa awal pemerintahan kerajaan Islam Bima sekitar abad 17 M. 

3.INI KAH BIMA? INI KAH DOU MBOJO?
Ramainya jalur perdagangan dan pelayaran nusantara pada masa awal kerajaan Islam tidak hanya diikuti oleh inkulturasi dan transfer budaya, tetapi juga memancing kepentingan politis VOC dalam hegemoni kekuasaan serta monopoli Perdagangan di wilayah Bima. Dalam perkembangan selanjutnya ketika pemerintah Hindia Belanda mengambil alih wilayah kekuasaan VOC, Bima sebagai salah satu kerajaan di pulau sumbawa tidak luput dari penetrasi kekuasaan Belanda. Dari awal abad 17 M sampai pada awal abad 19 M Belanda sebagai kongsi dagang (VOC) maupun Belanda Sebagai pemerintahan kerajaan terus melakukan usaha Hegemoni kekuasan di wilayah ini, baik dengan politik Adu domba maupun dengan melakukan berbagai perjanjian akhirnya berhasil menguasai penuh lingkungan Istana, sehingga berujung dengan perjanjian yang dikenal dengan “Conract Met Bima”. Perjanjian ini menujukkan Bahwa kerajaan Bima benar-benar berada dalam wilayah Hegemoni Hindia Belanda.
INILAH AWAL DARI HILANGNYA TARING KESULTANAN BIMA, HINGGA SEKARANG TARING ITU TAK KUNJUNG TUMBUH..., TETAP OMPONG SEPERTI OMPU-OMPU DAN WA'I-WA'I. 

catatan:
"sebagai bahan kritik bagi pribadi dou Mbojo. Bukan menyebarkan aib"

Selasa, 29 Oktober 2013

DINAMIKA POLITIK KESULTANAN BIMA ABAD 17 – 18 M

By: La Imam Ana Rasa

BAB I
PENDAHULUAN

Bima merupakan daerah tingkat II di Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), sebelum bergabung dengan NKRI Daerah Bima telah melewati perjalanan sejarah yang panjang, dari masa sebelum Islam yang hingga kini masih sulit untuk diungkapkan serta dipaparkan sejarahnya karena keterbatasan sumber, Hingga pada masa-masa proklamasi kemerdekaan pergolakan masih terjadi walaupun sifatnya dalam skala lokal.

Dalam konteks Sejarah Nasional Peran Bima dalam Dinamika politiknya jarang diungkap. hal ini mungkin dikarenakan porsi partisipasi pergolakan kekuasaan di sana banyak bersifat lokal dan regional wilayah saja. Selain itu penulisan sejarah tentang Bima juga banyak dilatar belakangi oleh Nasionalisme berlebihan sehingga tulisan-tulisan sejarah lokal tentang peran Bima dalam dinamika politik nasional terkesan dipaksakan. Dari sini penulis berusaha membuat tulisan dengan landasan historis lokal yang juga memaparkan karakteristik masyarakat Bima, sehingga selain pembaca bisa mengetahui Dinamika kekuasaan di Bima, pembaca juga bisa menilai sendiri bagaimana kondisi masyarakat Bima Abad 17-18 M.

Masyarakat Bima adalah masyarakat dengan kontruksi yang heterogen. Dalam masyarakat Bima terdiri dari komposisi ras yang lumayan beragam. Kapan dan bagaimana Bima bisa memiliki komposisi masyarakat yang demikian secara historis penulis akan mencoba memaparkan dalam tulisan ini yang mengangkat judul “Dinamika Sosial dan Politik Kesultanan Bima Abad 17 – 18 M” Bima masa kesultanan atau menurut Bpk. Ari Sapto M.Hum (Dosen Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang) lebih tepat disebut Kerajaan Islam Bima yang dalam sejarahnya banyak ikut serta dalam berbagai pergolakan di Nusantara bagian timur terutama dalam masa awal pemerintahan kerajaan Islam Bima sekitar abad 17 M. 

Ramainya jalur perdagangan dan pelayaran nusantara pada masa awal kerajaan Islam tidak hanya diikuti oleh inkulturasi dan transfer budaya, tetapi juga memancing kepentingan politis VOC dalam hegemoni kekuasaan serta monopoli Perdagangan di wilayah Bima. Dalam perkembangan selanjutnya ketika pemerintah Hindia Belanda mengambil alih wilayah kekuasaan VOC, Bima sebagai salah satu kerajaan di pulau sumbawa tidak luput dari penetrasi kekuasaan Belanda. Dari awal abad 17 M sampai pada awal abad 19 M Belanda sebagai kongsi dagang (VOC) maupun Belanda Sebagai pemerintahan kerajaan terus melakukan usaha Hegemoni kekuasan di wilayah ini, baik dengan politik Adu domba maupun dengan melakukan berbagai perjanjian akhirnya berhasil menguasai penuh lingkungan Istana, sehingga berujung dengan perjanjian yang dikenal dengan “Conract Met Bima”. Perjanjian ini menujukkan Bahwa kerajaan Bima benar-benar berada dalam wilayah Hegemoni Hindia Belanda.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Bima Pada Masa Awal Kesultanan

Sebelum membahas lebih dalam tentang masuk dan berkembangnya Islam di Bima, untuk lebih jelasnya penulis ingin mengupas secara umum kondisi Bima sebelum Era Kesultanan walaupun sulit untuk menggambarkan kondisi masyarakat Bima pada saat itu dikarenakan keterbatasan sumber, namun beberapa tulisan terdahulu tentang kerajaan Bima menggambarkan masyarakat Bima sudah banyak yang menganut Islam sebelum lebih lanjut Islam masuk ke dalam kancah Politik dan pemerintahan. Bima sebelum masa kesultanan digambarkan sebagai daerah yang penduduknya beragama Hindu hal ini bisa dilihat dari temuan situs Wadu Pa’a2 yang terletak di desa Sowa kec. Donggo, Pesisir Barat Ujung Utara Teluk Bima.

Dalam proses masuknya Islam di Bima terdapat beberapa pendapat, diantaranya dalam buku “peranan kesultanan Bima dalam perjalanan sejarah nasantara” karangan M. Hilir Ismail menyebutkan Islam tersebar di wilayah lombok dan sumbawa salah satunya dibawa oleh Sunan Prapen yang merupakan putra sunan Giri pada 1540 – 1550 M, selain arus Islamisasi yang besar juga berasal dari para pedagang Sulawesi pada sekitar tahun 1617 M, seperti yang disebutkan dalam BO (Catatan lama Istana Bima).
Kesultanan Bima dalam kancah perpolitikan Nusantara pada Abad 17 banyak mengalami berbagai pergolakan baik di Bima sendiri maupun di wilayah timur nusantara. Hubungan Bilateral Kesultanan Bima dengan Kerajaan Gowa terjalin dengan baik selain karena persamaan Ideologi Kerajaan (Islam) juga karena adanya Hubungan darah antara pemegang kekuasaan kedua Kerajaan.

Seperti yang telah dibahas pada Sub-bab sebelumnya, Islam masuk ke Wilayah pemerintahan kesultanan Bima tidak terlepas dari pengaruh kerajaan-kerajaan di Makasar, khususnya Kerajaan Gowa. Disamping itu perkawinan antara Sultan pertama Bima Sultan Abdul Kahir, sebagai bentuk perkawinan politik yang merupakan Intrik politik yang cukup popular pada abad-abad itu, ikut memperkuat hubungan bilateral Kedua kerajaan.

B. VOC dan Pemerintah Hindia Belanda Dalam Dinamika Politik di Kerajaan Islam Bima.

Kontak pertama antara Bima dengan orang-orang Belanda telah dimulai sejak awal abad ke 17, ketika terjadi perjanjian lisan antara raja Bima, Salasi dengan orang Belanda bernama steven Van Hegen pada tahun 1605. Dalam sumber local perjanjian ini disebut Sumpa Ncake. Isi perjanjian tersebut sampai sekarang belum diketahui, namun pada masa-masa berikutnya tampak telah terjalin hubungan dagang antara Bima dengan VOC yang berpusat di Batavia. Dalam catatan harian VOC atau Dah-register disebutkan bahwa VOC mengirim kapal-kapalnya ke Bima untuk membeli beras dan komodii lainnya.

Secara politis hubungan Bima dan VOC mulai berlangsung dengan ditandatanganinya perjanjian 8 Desember 1669 dengan Admiral Speelman. Perjanjian itu merupakan kontrak pertama dengan VOC sebagai Akibat keikut sertaan Sultan Biama, Abdul Khair Sirajudin membantu kerajaan Gowa memerangi Belanda. Karena kalah perang, Sultan Hasanudin terpaksa menanda tangani perjanjian dengan Belanda pada tahun 1667, yang dikenal sebagai perjanjian Bongaya. Isi perjanjian itu antara lain memisahkan kerajaan Bima dengan kerajaan Gowa agar tidak saling berhubungan dan saling Membantu. Dalam kontrak tahun 1669 Bima memberikan terobosan pada kompeni untuk
berdagang di Bima dan raja atau sultan tidak boleh meminta atau menarik cukai pelabuhan terhadap kapal dan barang-barang kompeni yang keluar masuk pelabuhan. Setiap terjadinya tergantian raja atau sultan kontrak baru pun dibuat selain untuk tujuan memperkuat kontrak-kontrak sebelumnya, juga secara perlahan-lahan kompeni bermaksud untuk mempatkan Bima dan kerajaan-kerajaan lain di Pulau sumbawa di bawah kekuasaannya. Selain itu pertikaian antara elit penguasa di pulau sumbawa, baik yang sengaja direkayasa oleh kompeni atau bukan, pada dasarnya memberikan kesempatan pada VOC untuk memperluas pengaruh serta kekuasaannya di wilayah itu. Untuk mewujudkan keinginannya VOC mengadakan pendekatan melalui pembuatan kontrak atau perjanjian secara paksa. Sebagai contoh pada tnaggal 9 Februari 1765 VOC mengadakan perjanjian secara kolektif dengan kerajaan-kerajaan di pulau Sumbawa yaitu: Bima, Dompu, Tambora, Sanggar, Pekat dan Sumbawa. Cornelis Sinkelaar Gubernur VOC bersepakat denagn Abdul Kadim Raja Bima, Datu Jerewe raja Sumbawa, Ahmad Alaudin Juhain Raja Dompu, Abdul Said Raja Tambora, Muhamad Ja Hoatang Raja Sanggar dan Abdul Rachman Raja Pekat, untuk secara bersama-sama dengan VOC memelihara ketentraman, bersahabat baik dan mengadakan persekutuan dengan VOC. Dalam pasal 1 kontrak tersebut dinyatakan bahwa raja-raja di pulau sumbawa baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri berjanji akan terus mematuhi kontrak yang pernah dibuat sebelumnya, demikian juga prosedur-prosedur dari masa yang berbeda-beda yang telah dibuat dengan VOC masih berlaku dan akan terus dipatuhi. Pada tahun 1675 VOC diizinkan untuk mendirikan posnya di Bima. Perjanjian itu diperbharui lagi pada tahun 1701 dan sejak itu secara resmi VOC hadir di Bima. Mula-mula ditempatkan seorang dengan jabatan Koopman atau Onderkopman, kemudian seorang residen dan akhirnya seorang Komandan. Pada tahun 1708 J. Happon ditunjuk sebagai residen yang pertama, namun pda tahun 1771 jabatan residen digantiakan oleh jabatan komandan sampai tahun 1801.
Dalam kontrak disebutkan pula bahwa perjanjian itu dibuat dalam rangka persahabatan dan persekutuan yang abadi didasarkan atas ketulusan, kepercayaan dan kejujuran. Dan sebagai konsekwensi dari kontrak-kontrak itu, kerajaan-kerajaan di pulau sumbawa tidak boleh (dilarang) mengadakan hubungan (politik maupun dagang) dengan daerah-daerah lain, dengan bangsa eropa lain atau dengan seseorang kecuali dengan persetujuan dan ijin dari VOC. Meskipun demikian berkaitan dengan penempatan residen di Bima, harus dengan persetujuan kerajaan Bima dan sepengetahuan Gubernur dan Dewan Hindia di Makasar.

Akibat lain dari perjanjian ini ialah semua hubungan dengan orang-orang Makassar di daerah ini harus diputuskan. Bagi VOC orang-orang Makasar adalah para pengacau dan penyulut kekacauan karena hubungan Sumbawa dengan Makassar telah berjalan lama. Pada tahun 1695 telah terjadi pelarian orang-orang makassar dalam jumlah besar ke daerah Manggarai. Bahkan perpindahan orang-orang Makassar itu telah berlangsung sejak 1669, setelah kerajaan Gowa ditaklukkan VOC dan ditandatanganinya perjanjian Bongaya pada tahun 1667. pada tahun 1701 orang-orang Makassar berhasil diusir dari Manggarai, namun ternyata hubungan antara Bima dengan Makassar tidak dapat diputus dengan cara-cara kekerasan seperti itu, karena hubungan Bima dengan Makassar idak semata-mata bersifat politik dan ekonomi (dagang), tapi juga hubungan perkawinan antara elit penguasa Bima dengan putrid bangsawan Gowa.
Pada tahun 1759 sebagai dampak dari kontrak yang dilakukan raja-raja di pulau Sumbawa, orang-orang Makassar menyerang Manggarai dan menduduki daerah itu. Tetapi mereka tidak dapat bertahan lama karena pada tahun 1762 dengan bantuan VOC. Bima dapat menguasai kembali daerah manggarai. Usaha yang dilakukan oleh Gowa untuk manguasai Manggarai tetap dilakukan, misalnya pada tahun 1822 dengan jalan menarik pajak, namun belum berhasil.
Dengan berbagai perjanjian yang terus diperbaharui Dari VOC hingga ke Hindia Belanda, perlahan-lahan kesultanan Bima secara politis kehilangan kekuasaan. Terakhir perjanjian yang menurut penyaji merupakan titik puncak Hegemoni Belanda atas kesultanan Bima adalah perjanjian yang dilakukan oleh sultan Ibrahim pada tanggal 6 februari 1908 yang disebut Contract met Bima. Perjanjian tersebut antara lain berisi:
1. Sultan Bima mengakui kerajaan Bima merupakan bagian dari Hindia Belanda. Dan bendera Belanda harus dikibarkan.
2. Sultan Bima Berjanji senantiasa tidak melakukan kerjasama dengan bangsa kulit putih lain.
3. Apabila Gubernur Jendral Hindia Belanda menghadapi perang. Maka Sultan Bima harus mau mengirim bala bantuan.
4. Sultan Bima tidak akan menyerahkan wilayah kesultanan Bima kepada bangsa lain keculai Belanda.
Walaupun pada perkembangan selanjutnya perjanjian ini menyulut perlawanan dari rakyat Bima, namun tetap saja kesultanan Bima pada masa itu berada dalam posisi yang lemah. Dan hal itu bisa dilihat dari perlawanan rakyat yang dapat dipatahkan oleh Belanda secara bertahap, dan Sultan Ibrahim tidak punya kekuatan yang cukup untuk melakukan perlawanan secara terang-terangan.




Penulis Adalah Mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang.
aktif sebagai Kordinator Divisi HUMAS IKAHIMSI Wilayah III Jawa Timur (Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah Se-Indonesia)
http://komplasi.blogspot.com/