ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA KOMPLASI - Malang (Komunitas Mahasiswa Dan Pelajar Sila - Malang)

KOMPLASI - Malang “Komunitas Mahasiswa dan Pelajar Sila - Malang” Januari, 2009.

PENGUMUMAN !!!

"Mohon untuk dibaca dan diberitahukan kepada teman-teman yang lain"

KEBERSAMAAN KELUARGA KOMPLASI MALANG

Lagi asik bergoyang bersama-sama. hehehe.

Di Pantai

Kebersamaan yang tak terlupakan.

HAVE FUN PICNIC Bajul Mati

"kebersamaan keluarga Komplasi Malang"

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 November 2013

makanan khas Bima

Tumi Sepi (Tumis Udang Rebon)

Sepi adalah makanan khas Bima yang terbuat dari udang rebon (anak udang yang sangat kecil yang di Bima disebut Sepi Bou). Udang rebon difermentasi dengan garam saja sehingga mengeluarkan aroma khas.
Bahan-bahan yang dibutuhkan:
  2 sendok makan Sepi
  1 ruas jari lengkuas
  1 lembar sereh
  2 genggam kemangi
  1 sendok makan minyak goreng
  100ml air Bumbu-bumbu (Semuanya diiris-iris)
  10 butir bawang merah
  5 siung bawang putih
  1 buah tomat ukuran besar
  7 buah belimbing sayur
  5 buah cabe keriting
  1-15 buah cabe rawit biarkan utuh
  Garam secukupnya
  Gula pasir ½ sendok teh Cara Membuatnya
*  Panaskan minyak, tumis semua bumbu yang sudah diiris masukkan daun sereh dan lengkuas setelah harum masukkan Sepi, garam secukupnya dan gula pasir, masukkan 100ml air,
  aduk-aduk terus hingga matang.
  Sebelum diangkat masukkan cabe rawit dan kemangi biarkan cabe rawit layu setelah itu angkat.
  Siap dihidangkan dengan lalaban.
  Cocok dihidangkan bersama sayur asam atau sayur bening.
    SEPI bisa juga dikonsumsi langung tanpa dimasak terlebih dahulu. Tambahkan cabe rawit (potong-potong) dan air jeruk purut, lebih sedap bila kulit jeruk purut diiris-iris dicampurkan dengan SEPI (sebelumnya jeruk purut dimemarkan dulu untuk membuang rasa getir). Atau juga bisa dicampurkan dengan mbohi dungga (sambal parado)
Mangge Mada (Gulai Jantung Pisang)



Bahan-bahan yang dibutuhkan:
 * 1 buah jantung pisang kepok
* 1 genggam kelapa parut (sangrai lalu dihaluskan)
* 1 gelas santan kental dari 1 kelapa
* 300gr udang (rebus tampa air, buang kulit dan kepalanya)
* 1 butir jeruk nipis (ambil airnya) Bumbu-bumbu (potong-potong sesuai selera)
* 5 buah cabe keriting
* 7 butir bawang merah
* 5 buah belimbing wuluh
* Garam secukupnya Cara Membuatnya
* Siangi jantung pisang (ambil bagian putihnya)
* Rebus sampai matang, angkat dan tiriskan, dipotong-potong lalu diperas (buang air getirnya)
* Campurkan dengan potongan cabe, bawang merah, belimbing dan kelapa gongseng serta garam.
* Masukkan santan dan air jeruk nipis,
* terakhir masukkan udang yang sudah direbus.
*Udang dapat digantikan dengan : Cumi atau Ikan Pari yang dipindang atau Cingur Sapi/Kulit yang dibakar terlebih dahulu 


Uta Mbeca Ro'o Parongge (Sayur Daun Kelor)
 
Bahan-bahan yang dibutuhkan:
* 3 ikat daun kelor (sebagai patokan: ikatan daun katuk)
* 1 genggam tauge pendek
* 1 ikat kangkung
* 5 butir bamea (Okra, jenis sayuran banyak terdapat di Timur Tengah dan Pakistan)
* 5 butir bawang merah (potong-potong)
* 1 batang tamu kunci (potong-potong)
* 2 liter air Bumbu-bumbu
* Garam secukupnya
* Gula secukupnya
* Penyedap rasa sedikit bila suka Cara Membuatnya
* Siangi daun kelor (rontokkan daunnya), kangkung dipotong sepanjang 2cm, bamea dipotong-potong sepanjang 1cm.
* Campur dan cuci semua bahan-bahan kecuali bamea dicuci tersendiri.
* Rebus dua liter air sampai mendidih, masukkan semua bahan kecuali okra yang dimakkan setelah beberapa menit untuk menghindari agar okra tidak terlalu berlendit.
* Masukkan garam dan gula secukupnya, masak terus sampai sayur matang.
* Angkat dan hidangkan dengan uta puru dan sambal dhocho mange.

Daftar Makanan Khas Bima Lainnya

Sumber : www.bimacenter.com

Pacoa Jara (Pacuan Kuda)

Pacuan Kuda atau dalam bahasa Bima disebut “Pacoa Jara” tampaknya makin marak di Bima. Paling tidak pacuan kuda diselenggarakan 2 kali setahun, yaitu pada hari-hari besar seperti Hari Proklamasi (Agustus) dan Hari Pemuda (Oktober). Pacuan kuda ini dilaksanakan dalam bentuk kejuaraan, bahkan melibatkan juga peserta dari daerah lain, Dompu, Sumbawa, hingga dari Lombok. Yang menarik, hadiah bagi jawara pacuan kuda ini tidak sedikit, sehingga banyak peminatnya. Hadiah pertama antara lain sebuah sepeda motor + sepasang anak sapi + hadiah lainnya. Setiap peserta membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 150.000,- Jika ternyata kalah dan keluar, peserta yang penasaran bisa mendaftar lagi. Nah, untuk satu periode pacuan, jumlah pendaftar ini bisa mencapai 800 hingga 1000 peserta! Selain di Panda, arena pacuan ada juga di kota Bima dan di Sila.
  

Ntumbu (Adu Kepala)
 
Salah satu budaya bima yang masih bertahan dan terus dikembnangkan adalah adu kepala. Buaya dan sekalugus keseniaan ini berlokasi di Kecamatan Wawo Kabupaten Bima. Tradisi yang sudah berumur sama dengan keberadaan daerah bima ini tidak sembarang orang dapat memainkannya. Hal ini karena perlu dipelajari secara serius dan mendalam melalui seorang guru. Sehingga tidak heran, hanya terdiri dari beberapa orang saja yang mampu memerankan tradisi tersebut. Belum lama ini digelar budaya adu kepala di halaman Kantor Bupati Bima dan mendapat prehatian luas dari masyarakat, termasuk turis manca negara.

Selasa, 29 Oktober 2013

Hari ini Pragmatisme Pendidikan, Besok apa lagi???*


Melihat dan merasakan sendiri pendidikan dewasa  ini sangat amat melenceng dari substansi adanya pendidikan, ketika pendidikan pada hakikatnya merupakan sebuah kebutuhan asasi manusia untuk menjadi manusia sehingga pada akhirnya bisa berguna bagi manusia dan alam namun telah ternodai dengan pemikiran-pemikiran pragmatis yang menjadikan pendidikan hanya terpaku pada nilai kuantitas bukan kualitas. Masyarakat dan kita sendiri sebagai subjek dan objek pendidikan hanya terpaku pada hal-hal yang pragmatis, ketika kita hidup sebagai “akademisi” hanya memiliki main set masuk kuliah, mengerjakan tugas, ada kuis dijawab, ikut UTS, ikut UAS dan pada akhirnya mendapat nilai A. kemudian ketika dalam aktifitas sehari-hari dikelas para “akademisi” hanya terjebak dalam buaian retorika semu dan gagasan yang menghiasi ruang kelas, dan ketika masa untuk beretorika semu dan gagasan indah dalam ruang kelas itu sudah habis (jam  kuliah selesai) maka seakan-akan burung yang keluar dari sangkar menjadi seorang yang bebas dan melepaskan semua hal yang telah dikerjakan dalam beretorika semu dan gagasan indah di kelas. Realita yang terjadi tersebut dapat disebut sebagai pragmatism pendidikan.
Padahal, pendidikan yang pada hakikatnya adalah sebagai kebutuhan asasi manusia untuk memanusiakan manusia dan untuk berguna bagi manusia dan alam. Lebih jelas lagi menurut Imanuel Khan menjelaskan pendidikan merupakan suatu proses humanisasi yang artinya dengan pendidikan manusia akan lebih bermartabat, berkarakter, terampil, yang memiliki tanggung jawab terhadap sistem sosial sehingga akan lebih baik, aman dan nyaman. Ditambah lagi bapak pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantoro menggambarkan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yangselaras dengan alam dan masyarakatnya. Intisari dari kedua ahli tersebut adalah pendidikan adalah proses humanisasi agar lebih berkualitas sehingga bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama.
Merujuk pada hakikat pendidikan seperti yang telah dijelaskan Imanuel Khan dan Ki Hajar Dewantoro, maka seharusnya pada tataran taktis atau pada tataran lembaga atau intitusi pendidikan bisa menjadikan pola pendidikan yang ada khususnya pada kampus sebagai tempat dimana ide, gagasan yang substansial itu ditampilkan, bukan hanya menjadi tempat lahirnya para penghafal dan pencatat teori materi yang diujikan oleh dosen. Ketika hal ini bisa diterapkan maka dipastikan kampus akan menjadi tempat para akademisi untuk saling berwacana, beradu argument, dan beradu pemikiran untuk menemukan solusi memperbaiki keadaan social. Refleksi kebelakang tentang bagaimana Ki Hajar Dewantoro mendirikan sebuah Perguruan Tamansiswa pada tahun 1922, dimana pendidikan Tamansiswa berciri khas Pancadarma, yaitu 1) Kodrat Alam; 2) Kemerdekaan; 3) Kebudayaan; 4) Kebangsaan; 5) Kemanusian,  yang berdasarkan Pancasila. Sehingga dari sini dapat dijelaskan makna yang tersirat dari Ki Hajar Dewantoro, bahwa seorang yang berpendidikan maka dia akan menjadi manusia yang berkualitas dan bermanfaat bagi sesama.
Ketika pendidikan menjadi pragmatis, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa banyak dari kita malah lebih menikmati untuk menjalani hidup dan berkecimpung pada tataran akademis pragmatis, padahal kalau melihat Tri Dharma perguruan tinggi menyatkan bahwa mahasiswa atau dosen itu harus pertama. pendidikan dan pengajaran, kedua. penelitian dan pengembangan, ketiga.pengabdian pada masyarakat. Kalau pada saat ini banyak diantara kita hanya focus pada akademis yang pragmatis maka secara langsung kita telah melanggar tri dharma yang kedua dan ketiga, yaitu untuk menjadi mahasiswa yang meneliti dan mengembangkan serta mengabdi pada masyarakat.
Memang berat untuk menjalankan ketiga tri dharma tersebut, namun setidaknya setetes ilmu yang telah kita terima dan kita fahami bisa menjadi alat kita mengabdi pada masyarakat. Entah itu dengan ikut turun aksi membela rakyat, ikut menjadi voloenter LSM, menjadi anggota LSM, membuat LSM, dan lain sebaginya. Namun ketika memang sudah mentok tidak bisa menjadi mahasiswa yang mengabdi pada masyarakat, maka jadilah orang yang mensuport kawan-kawan yang berusaha selain akademis juga mengabdi pada masyarakat. Pragmatism pendidikan adalah sumber banyak bencana yang melanda bangsa kita, mari mulai dari diri untuk sadar dan bisa menjadi selayaknya dan berusaha yang menjalankan tri dharma perguruan tinggi, agar kedepannya adalah negara yang kita cintai ini, bangsa yang kita cintai ini, bisa menjadi bangsa yang besar seperti yang dicita-citakan para pendiri negara ini, negara Indonesia.
Pendidikan menjadikan manusia lebih bisa bermanfaat bagi sesama.
(Faris I.I: 2013)
Prgamatisme pendidikan adalah awal para akademisi menjadi musuh bangsa
(Faris I.I: 2013)


*Penulis adalah Faris Imamuddin Ilmi, Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang
Silahkan kirim kritik dan saran ke FB : Faris Muddin, TW: @FarisMuddin, Email: Faris13_xa@yahoo.com.